WARTA 24 JATENG

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Pembangunan Tanggul Melintang Sesuai Kajian

Posted by On 18.07

Pembangunan Tanggul Melintang Sesuai Kajian

Post Views: 128 Rob Pesisir Pekalongan

TANGGUL PENANGKAL ROB â€" Pembangunan tanggul melintang penanggkal rob di pesisir Pekalongan senilai Rp500miliar bakal dilaksanakan 2018-2019.
MUHAMMAD HADIYAN

Jawaban Kepala DPU Atas Keresahan Kades Semut

Belakangan ini dikabarkan terkait keresahan kepala desa dan warga Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, akan pembangunan tanggul melintang senilai Rp500miliar dari pusat. Mereka khawatir, pembangunan tanggul untuk mengatasi rob di pesisir itu belum mampu mengatasi dampak rob di wilayahnya yang berada dekat dengan bibir pantai.

Menanggapi keresahan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPU TARU) Kabupaten Pekalongan, Wahyu Kuncoro menyatakan bahwa proyek penanggulan rob dari pusat itu sudah berdasarkan kajian yang matang. Sehingga dampak dari pembangunan tembok raksasa penahan rob di pesisir Pekalongan itu dinilai mampu menahan rob agar tidak masuk ke permukiman warga.

“Di utara tanggul memang lahan basah, sedangkan di selatan tanggul bisa menjadi lahan kering. Sehingga pasca pembangunan nanti, bisa kembali menjadi lahan persawahan seperti sedia kala,” ujar Wahyu, kemarin.

Pembangunan yang memakan anggaran Rp500 miliar dari pusat itu akan dilaksankan mulai 2018 hingga 2019 ini. “Tanggul melintang tersebut akan dibangun mulai dari pesisir Kota Pekalongan, berdekatan dengan Desa Jeruksari Tirto, hingga ke Sungai Sragi,” tandasnya.

Sementara banjir rob yang menjadi momok bagi warga pesisir Kabupaten Pekalongan menjadi konsen serius Pemkab Pekalongan. Hal itu seperti yang diungkapkan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi. Pihaknya telah memersiapkan program untuk merekayasa percepatan tanggul melintang dengan pembiayaan dari pusat senilai Rp 500 miliar agar segera terlaksana.

“Kita akan lakukan percepatan agar segera terlaksana tanggul melintang itu. Supaya bisa menahan derasnya arus laut yang masuk ke kawasan permukiman. Tanggul melintang itu mulai dari sungai Sragi lama sampai Bandengan. Karena ini terintegrasi dengan Pemerintah Kota Pekalongan,” terang dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Semut, Sunoto menyatakan, wilayah di desanya yang paling berbahaya dari ancaman banjir rob adalah di Dukuh Simonet. Puluhan kepala keluarga di wilayah ini hidup berdekatan langsung dengan bibir pantai. Akses menuju ke pedukuhan tersebut juga sulit karena harus menyeberangi muara di TPI Wonokerto.

“Paling parah di dukuh itu. Puluhan kepala keluarga hidupnya memprihatinkan karena paling parah terdampak rob. Namun, mereka enggan untuk direlokasi,” ujar dia.

Dikatakan, rencana pemerintah pusat membangun tanggul raksasa dari Sungai Sragi Baru di Kabupaten Pekalongan hingga Bandengan, Kot a Pekalongan diperkirakan belum mampu mengatasi persoalan rob di pedukuhan tersebut. Pasalnya, lokasi tanggul itu sekitar 2 kilometer di sisi selatan pedukuhan tersebut, atau jika dilihat posisi dari laut wilayah Dukuh Simonet berada di luar tanggul yang dibangun pemerintah itu.

“Warga Simonet justru cemas tanggul itu akan memperparah rob di Simonet, sebab dukuh ini berada di luar tanggul,” katanya.

Diakuinya, akses menuju pedukuhan itu sulit. Warga setempat biasanya menyeberangi muara dengan menggunakan kapal. Untuk sekali menyeberang, mereka mengeluarkan ongkos antara Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu. Oleh karena itu, jika terjadi banjir rob besar sulit untuk mengevakuasi warga pedukuhan tersebut.

“Bupati pernah mengusulkan akan membangun jembatan di muara itu. Jembatan ini bisa buka-tutup, sehingga kapal-kapal tetap bisa melintas,” katanya.

Selain warga Dukuh Simonet, ratusan hektar sawah dan tambak juga berada di luar tanggul raksasa tersebut, terma suk lahan pertanian bengkok kepala desa dan perangkat desa juga dinilai akan terancam.
Menurutnya, selama sembilan tahun ini ratusan hektar sawah dan tambak itu tidak produktif lantaran tidak bisa digarap akibat terendam rob.

“Kami bersyukur dengan adanya pembangunan tanggul raksasa itu, namun untuk wilayah permukiman, lahan pertanian, dan tambak di luar tanggul juga harap dicarikan solusi terbaiknya, agar tidak semakin parah,” imbuh dia. (yon)

Penulis: Triyono & Redaktur: Widodo Lukito

Sumber: Google News | Warta 24 Pekalongan

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »