WARTA 24 JATENG

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Sabar Subadri, Pelukis Tanpa Tangan

Posted by On 03.00

Sabar Subadri, Pelukis Tanpa Tangan

Sabar Subadri, Pelukis Tanpa Tangan

Sabar Subadri, pelukis yang terlahir tanpa kedua tangan, dan kaki kiri lebih pendek dari satunya (Suara Pembaruan/Dina Fitri Anisa)

Oleh: Dina Fitri Anisa / FMB | Sabtu, 2 Desember 2017 | 15:09 WIB

Jakarta - Sabar Subadri (38), tidaklah pernah ia meratapi kesedihan secara mendalam. Tidak pula dirinya marah atas keterbatasan fisik yang dimilikinya. Ia terlahir tanpa kedua tangan, dan kaki kiri lebih pendek dari satunya. Keadaan ini justru membuat dirinya bangkit dan terus berlari mengejar mimpi. Tak luput, rasa syukur akan karunia yang telah ia dapat, terus ia panjatkan dan lukiskan dalam cat warna di atas kanvas.

“Keterbatasan fisik tidaklah menjadi halangan dalam meraih cita-cita. Halangan itu adalah sesua tu yang diambil dari kita, yaitu kesempatan dan kemampuan. Tetapi selain halangan, ada juga yang diberikan pada kita. Nah, pemberian itu harus dijelajahi dan dicari melalui kerja keras,” kata Sabar.

Memang unik, karena pada umumnya, karya lukisan indah kelas dunia dilukiskan dengan tangan. Namun, nyatanya cara tersebut tidak berlaku untuk pria asal Salatiga, Jawa Tengah ini. Meski begitu, jangan pernah meremehkan karya-karyanya. Bukan sekedar corat-coret biasa, lukisannya pun dinilai mampu berjajar di antara karya lukis maestro kelas dunia lainnya.

Sabar bercerita, sejak berusia tiga tahun, ia memiliki kebiasaan mencorat-coret dengan kapur, sama seperti anak kecil pada umumnya. Namun, dengan kebiasaan itu orang di sekitarnya menganggap Sabar tak mampu melakukan hal lain, kecuali mencorat-coret.

“Setelah itu ibuku langsung membelikanku spidol dengan beraneka ragam warna. Beragam lomba menggambar ataupun melukis pun selalu didaftarkan. Namun, aku tak pernah m enang saat itu,” ungkapnya saat ditemui SP di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, setelah Sabar mengenyam pendidikan di TK, sepenuh keyakinan, sang ibu juga menginginkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SD. Tetapi takdir berkata lain, keyakinan sang ibu lama-lama memudar. Sudah ke sana kemari Sabar digendongnya. Lima sekolah dasar pun menolak mentah-mentah ketika melihat keadaan fisik. Para kepala sekolah dan guru di sana pun mengatakan bahwa Sabar seharusnya bersekolah di sekolah luar biasa.

“Ibuku sebelumnya sudah ke sana (SLB). Namun, yang dilihatnya adalah anak-anak yang memiliki gangguan berpikir. Ibuku takut aku terhambat, karena ia yakin aku mampu mengikuti pelajaran, seperti anak-anak normal pada umumnya. Ternyata, usaha terakhir ibuku mendatangi kembali SD lainnya tak sia-sia,”

Akhirnya SDN Kalicacing 2 menerimanya. Karena kondisinya, dia melakukan aktivitas belajar termasuk menulis menggu nakan kaki kanannya yang bisa difungsikan secara normal. Semenjak di SD itulah pihak sekolah mengetahui Sabar memiliki kelebihan menggambar. Semakin sering dirinya dikirim mengikuti lomba melukis.

"Saat saya ikut lomba, berbagai media massa menghampiri diriku. Dan memuat diriku di koran dan juga majalah. Dari sanalah, ada salah satu anggota Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) Jakarta menghubungi saya," tuturnya.

AMFTA merupakan perkumpulan seniman mulut dan kaki, yang berpusat di Leichtenstein. Setiap anggotanya yang telah memenuhi kewajiban mengirim lukisan, akan mendapatkan honor setiap bulannya. Penawaran ini pun menjadi penyejuk hati Sabar dan orang tuanya. Pasalnya saat itu, keadaan ekonomi keluarga sedang pas-pasan.

Sejak saat itu, kesehariannya hanya ia kerahkan untuk melukis yang dibimbing oleh Amir Rachmad. Kemudian setelah usia 10 tahun. Dalam perkembangnnya, bersama empat temannya pada tahun 1989 menggelar pameran kerja sa ma Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) dan Bentara Budaya, Jakarta. Kemudian pada 1996, lembaga negara yang mengurusi masalah sosial menggelar Safari Remaja Berprestasi. Seluruh peserta diberi kesempatan untuk bertemu dengan Presiden RI, Soeharto.

Masih haus akan pendidikan, setelah lulus SMAN 3 Salatiga tahun 1999, Sabar sempat pula mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STiBA) Satya Wacana, Salatiga, meskipun tak selesai. Dia selanjutnya lebih intens menggeluti dunia lukis. Bersama AMFPA, dia mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri. Dia pernah berpameran di Taipei, Singapura, Wina dan Barcelona.

"Ini akan saya tanamkan kepada para penyandang cacat lainnya. Saya mendapat dukungan dari anggota AMFPA untuk mengadakan kegiatan dengan tujuan memberikan motivasi kepada sesama saudara-saudara kita para penyandang cacat. Penyandang cacat tidak harus tenggelam oleh kekurangan fisik, namun dari kekurangan ini mari kita berkarya untuk bisa dinikmati sesama,” ujar suami dari Fachrunnisa.

Tak ingin keindahan dunia yang dimiliki dirinya dirasakan sendiri, sejak 2016 dirinya membangun sebuah Saung Kelir. Melalui sanggar, dirinya ingin membagi pengetahuannya melukis kepada generasi penerus. Tak hanya itu, berbagai fasilitas lengkap, seperti perpustakaan, galeri, bioskop mini, dan art space ia buka untuk umum. Tak jarang penduduk sekitar, menggunakan Saung Kelir sebagai tempat berkumpul dan berkesenian.



Sumber: Suara Pembaruan ARTIKEL TERKAIT
  • 1 Suap di Jambi 2 Suksesi Dini Golkar 3 Gunung Agung Meletus 4 Putri Presiden Menikah 5 Banjir Melanda
    • Praktek Pinjam 'Bendera' Bisa Dikenakan Pidana
    • Gerakan 212 Perburuk Kualitas Keagamaan
    • Pemeriksaan Dihentikan Sementara, Dhani Menginap di Polres Jaksel
    • Fadli Zon Sebut Ahmad Dhani Dikriminalisasi
    • Zumi Zola: Saya Tak Pernah Perintahkan Suap
    • Ini Hasil Undian Grup Piala Dunia 2018
    • Gratiskan KJP, Pemprov DKI Yakin Ancol Tidak Akan Rugi
    • Tengah Malam, Mulan Temui Dhani di Polres Jaksel
    • Pemkot Medan Apresiasi Keberhasilan PSMS ke Liga 1
    • Polisi Tidak Tahan Ahmad Dhani
Sumber: Google News | Warta 24 Salatiga

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »