WARTA 24 JATENG

Daftar Gratis!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

thumbnail

Posted by On 18.09

OP Beras Gondang Sragen Sepi, Bakul asal Mantingan Turut Beli

Para petugas dari mitra Bulog menjual beras berkualitas medium dengan harga Rp8.800/kg dalam operasi pasar beras di pelataran Pasar Kawedanan Gondang, Sragen, Jumat (5/1/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos)Para petugas dari mitra Bulog menjual beras berkualitas medium dengan harga Rp8.800/kg dalam operasi pasar beras di pelataran Pasar Kawedanan Gondang, Sragen, Jumat (5/1/2018). (Tri Rahayu/JIBI/Solopos) Sabtu, 6 Januari 2018 05:35 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share : KOMODITAS PANGAN
OP Beras Gondang Sragen Sepi, Bakul asal Mantingan Turut Beli

Operasi pasar (OP) beras diadakan di Sragen, salah satunya di Pasar Kawedanan, Gondang.

Solopos.com, SRAGEN â€" Dua unit truk bermuatan beras kualitas medium berhenti di pelataran Pasar Kawedanan Gondang, Sragen, Jumat (5/1 /2018) siang. Masing-masing truk itu bermuatan 200 sak beras.

Setiap sak berkapasitas 25 kg beras. Dua truk itu memuat 10.000 kg beras medium. Bak belakang truk dibuka. Dari bak itu petugas mitra Badan Urusan Logistik (Bulog) melayani penjualan beras murah.

Di antara dua bak yang terbuka dipasang spanduk berbahan MMT bertuliskan “Tersedia Beras Medium Harga Rp8.800/kg”. Setiap sak beras itu dijual dengan harga Rp220.000. Tak banyak pembeli yang datang untuk membeli beras Bulog itu. Tak ada antrean. Hanya 2-3 orang datang membeli 1-3 sak lalu pulang.

Setelah beberapa menit datang lagi 1-2 orang membeli 1-2 sak beras lalu pergi. Siapa pun bisa beli beras itu karena tak ada ketentuan khusus, seperti bawa kupon atau catatan khusus. Yang penting bawa uang, bayar, beras langsung dibawa pulang. (Baca:

Abdurrahman, 35, warga Gondang Kalang RT 002/RW 001, Gondang, Sragen, berdiri menempel di bak truk. Ia melihat-lihat kualitas beras medium itu dan bertanya-tanya dengan petugas pelayanan penjualan beras dalam operasi pasar (OP) beras.

“Saya kebetulan mau beli plastik dan baru tahu kalau ada OP beras. Saya mampir lihat-lihat dan tanya harga. Ternyata murah. Di pasar harganya masih Rp11.000/kg ternyata di sini dijual Rp8.800/kg. Ya, nanti rencana mau beli dua sak untuk makan sendiri,” ujarnya saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat siang.

Perbincangan Abdurrhman dengan petugas mitra Bulog dan Solopos.com terhenti saat ada seorang ibu-ibu datang naik sepeda motor Honda Vario warna hitam. “Mbak, minta dua sak ya!” teriak perempuan yang diketahui bernama Muji, 58, warga Mantingan, Ngawi, Jawa Timur.

“Ditaruh di depan [tempat bagian depan motor] semua saja ya, Mas,” ujar Muji seraya menyodorkan uang kepada Lilis, 32, petugas mitra Bulog asal Kujon, Toyogo, Sambungmacan, Sragen.

Seorang laki-laki mengusung dua sak secara bergantian dan meletakkan di bagian motor di bawah setang sesuai perminta an Muji. Muji mengaku tahu ada OP karena dihubungi Lilis. Ia sudah langganan lama mitra Bulog Cahaya Intan Sragen.

Setelah Muji pergi, seorang nenek-nenek datang sambil mengapit tas hitam di ketiaknya. Ngadiyem, 80, warga Dukuh/Desa Pakah RT 007, Mantingan, Ngawi, Jawa Timur, datang untuk membeli beras.

“Nyuwun setunggal sak mawon, pinten? [minta satu sak saja, berapa?]” kata Ngadiyem sambil membuka tasnya.

Uang Rp50.000-an dan Rp10.000-an dikeluarkan setelah genap Rp220.000 diserahkan kepada Lilis. “Nyuwun tulung dianter dugi peken njih! [minta tolong dianter sampai pasar, ya!]” pinta Ngadiyem.

Laki-laki berkaus kuning memanggul satu sak beras. Ia mengikuti langkah Ngadiyem ke losnya di Pasar Gondang yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi OP. Ngadiyem berjalan tanpa alas kaki memilihkan jalan ke losnya yang berkelok-kelok.

Setelah 10 menit, akhirnya sampai di losnya. Di los itu ternyata sudah ada empat sak beras OP dan beberapa sa k berukuran besar yang menjadi stok bakul beras.

“Yang dua ini milik Bu Muji tadi. Kalau yang dua lainnya yang beli tadi. Ya, beras-beras ini nanti dijual lagi. Sedikit-sedikit, Pak. Yang penting bisa untung,” ujar Ngadiyem dengan logat jawanya.

Tiba-tiba Muji pun datang. Beras-beras ini merupakan beras stok lama yang dijual Bulog. Harganya berbeda dengan beras yang keluar dari selepan. Kalau beras baru dari selepan masih mahal berkisar Rp11.000/kg.

“Beras stok lama ini dengan kulakan Rp8.800/kg nanti dijual dengan harga Rp9.200/kg. Ambil untungnya tidak banyak,” ujar Muji sambil memencet tombol di kalkulatornya.

OP beras digelar Bulog Subdivre di empat daerah, yakni Sragen, Solo, Boyolali, dan Klaten. Tujuannya untuk mengendalikan harga beras di pasaran yang saat ini sudah di atas harga eceran tertinggi (HET). OP beras akan digelar hingga 31 Januari 2018.

lowongan pekerjaan
PANIN BANK, informasi selengkapnya KLIK DISINI Sumber: Google News | Warta 24 Sragen

no image

Posted by On 18.09

PDIP Purworejo sosialisasikan "status" Ganjar soal e-KTP

Semarang (ANTARA News) - DPC PDIP Purworejo telah menyosialisasikan status Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang diyakini tidak tersangkut dengan dugaan tindak pidana korupsi proyek E-KTP kepada kader di tingkat bawah.
"Banyak pertanyaan yang disampaikan berkaitan dengan hal itu, tentu kami harus jelaskan ke kader," kata Ketua DPC PDIP Purworejo Luhur Pambudi ketika dihubungi di Semarang, Kamis.
Menurut dia, tuduhan yang dialamatkan kepada Ganjar Pranowo tersebut dinilai tidak berdasar.
Ia meyakini Ganjar tidak akan melakukan tindakan semacam itu.
"Tentu menjadi tugas kami untuk `mewangikan`," katanya.
Terlebih lagi jika nantinya Ganjar memperoleh rekomendasi sebagai bakal calon gubernur PDIP, menurut dia, tugas untuk memenangi Pilkada 2018 akan semakin mudah.
"Di Pilkada 2018 kami targetkan perolehan suara 68 hingga 70 persen untuk wilayah Purworejo, " katanya.
Sementara itu, rekomendasi bakal calon Gubernur Jawa Tengah akan segera diumumkan PDIP.
Rekomendasi yang sedianya disampaikan pada Kamis siang ternyata ditunda.

Pewarta: Immanuel Citra Senjaya
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sumber: Google News | Warta 24 Purworejo

thumbnail

Posted by On 18.09

Gagal Salip Trailer, Pengendara Motor Tewas Tertabrak di Jambu

Jasad Desi Sasadara Putra, warga Jl. Taman Mangga, Lamper Lor, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jateng yang terlibat kecelakaan dengan truk trailer di kawasan Gondoriyo, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Sabtu (6/1/2018). (Facebook.com-?Andie Setiawann?)Jasad Desi Sasadara Putra, warga Jl. Taman Mangga, Lamper Lor, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jateng yang terlibat kecelakaan dengan truk trailer di kawasan Gondoriyo, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Sabtu (6/1/2018). (Facebook.com-?Andie Setiawann?) Sabtu, 6 Januari 2018 20:50 WIB R. Wibisono/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share : KECELAKAAN SEMARANG
Gagal Salip Trailer, Pengendara Motor Tewas Tertabrak di Jambu

Kecelakaan di Jambu, Kabupaten Semarang menewaskan seorang pengendera sepeda motor.

Solopos.com, S EMARANG â€" Kisah tragis menimpa seorang pengendara sepeda motor bernama Desi Sasadara Putra, warga Jl. Taman Mangga, Lamper Lor, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) setelah terlibat kecelakaan dengan truk trailer di kawasan Gondoriyo, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Sabtu (6/1/2018) sekitar pukul 19.00 WIB. Pada kecelakaan itu, Desi tewas seketika setelah ditabrak truk trailer.

Aparat Polsek Jambu Brigadir Nugroho menjelaskan Desi yang mengenderai sepeda motor Honda Vario berpelat nomor K 2625 HG mulanya ingin mendahului truk trailer di depannya. Sayang, Desi justru tertabrak truk trailer yang ingin ia dahului.

Nugrogho menjelaskan Desi tewas di lokasi kejadian seketika kisah tragis itu menimpanya. “Awalnya ingin mendahului, namun gagal terus tertabrak trailer. Korban meninggal dunia,” kata Nugroho kepada Semarangpos.com melalui sambungan telepon.

Nugroho menambahkan truk trailer beserta sopir yang terlibat kec elakaan di wilayah perbatasan antara Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung itu raib setelah tabrakan terjadi. “Untuk truknya kita belum tahu identitasnya wong lari kok mas, bisa dibilang tabrak lari,” lanjut Nugroho.

Sementara itu, jasad Desi korban tabrakan tersebut sudah dievakuasi aparat Polsek Jambu menggunakan mobil patroli. Kecelakaan di salah satu sudut Kabupaten Semarang itu juga sempat menyebabkan kemacetan panjang di kedua jalur jalan sekitar lokasi kejadian. (Ginanjar Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan pekerjaan
PANIN BANK, informasi selengkapnya KLIK DISINI Sumber: Google News | Warta 24 Kabupaten Semarang

thumbnail

Posted by On 18.09

Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Ditemukan di Purworejo

Kamis 04 Januari 2018, 22:09 WIB Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Ditemukan di Purworejo Rinto Heksantoro - detikNews Mayat  Laki-laki Tanpa Identitas Ditemukan di PurworejoFoto: Rinto Heksantoro/detikcom Purworejo - Sesosok mayat laki-laki ditemukan di Purworejo, Jawa Tengah. Penemuan mayat tanpa identitas itu membuat warga setempat geger.
Korban pertama kali temukan oleh Tutur (75) warga setempat yang sedang mencari ikan pada Kamis (4/1/2018) sore. Korban ditemukan dalam keadaan mengambang di pinggir Sungai Wawar Desa Ukirsari, Kecamatan Grabag.
Saat mengetahui ada mayat di sungai, dengan rasa takut bercampur k aget, Tutur pun kemudian melaporkan kepada kepala desa setempat dan kemudian melapor ke Polsek Grabag.
"Korban ditemukan pertama kali oleh pencari ikan kemudian melapor ke Pak Waluyo (38) selaku kepala desa. Pak Waluyo kemudian lapor ke kami dan langsung kami cek ke TKP," ungkap Kapolsek Grabag, AKP Sutoyo ketika ditemui detikcom di RS dr Tjitro Wardjojo Purworejo, Kamis (4/1/2018) malam.
Saat ini mayat masih berada di RS dr Tjitro Wardoyo untuk dilakukan identifikasi. Polisi masih melakukan penelusuran terutama berkaitan dengan laporan orang hilang.
Ada dugaan mayat tersebut merupakan salah satu korban yang hanyut 3 hari lalu di Sungai Tepus, Kecamatan Pituruh, Purworejo.
"Sementara korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk diidentifikasi oleh petugas. Karena kita belum bisa memastikan apakah itu korban yang Pituruh ataukah mungkin bisa saja korban lain," lanjutnya.
Sementara itu Korlap Basarnas Cilacap, Amin Riyanto (33) yang melakukan eva kuasi korban bersama tim menduga bahwa jenazah tersebut bukan merupakan salah satu dari kedua korban hanyut 3 hari lalu. Dilihat dari postur tubuh dan usia, kemungkinan mayat tersebut merupakan korban lain.
"Secara persis kami belum bisa memastikan, namun kemungkinan itu korban lain karena kalau yang di Mirit itu usianya 15 tahun. Sedangkan korban di Pituruh umur 80 tahun. Sedangkan yang korban ini umurnya tidak muda seperti 15 tahun dan tidak setua 80 tahun. Namun untuk jelasnya kita tunggu pemeriksaan dari petugas," katanya.
Hingga kini mayat masih dalam pemeriksaan dan identifikasi oleh petugas polisi yang didampingi petugas medis.
(bgs/bgs)Sumber: Google News | Warta 24 Purworejo